Festival Waisak merupakan salah satu perayaan keagamaan terbesar bagi umat Buddha di Indonesia. Setiap tahunnya, ribuan umat Buddha dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, berkumpul di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, untuk memperingati hari suci ini. Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Festival Waisak di Borobudur telah menjadi simbol toleransi, kedamaian, dan warisan budaya Indonesia yang mendunia.
1. Makna dan Sejarah Hari Waisak
Hari Raya Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama, yang dikenal sebagai Tri Suci Waisak, yaitu: kelahiran Pangeran Siddharta di Taman Lumbini, pencerahan (menjadi Buddha) di Bodhgaya, dan parinibbana atau wafatnya Buddha Gautama di Kusinara. Ketiga peristiwa agung ini diyakini terjadi pada tanggal dan bulan yang sama menurut penanggalan lunar, yaitu saat bulan purnama di bulan Waisak (sekitar Mei–Juni). Di Indonesia, perayaan Waisak telah menjadi tradisi nasional sejak tahun 1953. Candi Borobudur dipilih sebagai pusat perayaan karena merupakan situs peninggalan agama Buddha terbesar di dunia, yang mencerminkan ajaran dan perjalanan spiritual menuju pencerahan.
2. Prosesi Sakral Waisak di Borobudur
Festival Waisak di Borobudur terdiri atas serangkaian prosesi suci yang sarat makna religius dan simbolik. Perayaan biasanya diawali dari Candi Mendut, kemudian dilanjutkan dengan prosesi jalan kaki sejauh sekitar 3 kilometer menuju Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur.
Ribuan umat membawa lentera, bunga teratai, serta patung Buddha kecil, sambil melantunkan doa dan paritta (mantra suci). Prosesi ini melambangkan perjalanan spiritual manusia menuju pencerahan dan kebebasan dari penderitaan.
Di puncak acara, saat bulan purnama muncul di langit Borobudur, umat berkumpul untuk melakukan meditasi bersama dan menyalakan lampion Waisak. Ratusan lampion yang diterbangkan ke langit malam menciptakan pemandangan yang indah dan menenangkan, melambangkan harapan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi semua makhluk.
3. Keunikan Festival Waisak di Borobudur
Yang membuat Festival Waisak di Borobudur unik adalah perpaduan antara unsur spiritual, budaya, dan pariwisata. Bukan hanya umat Buddha, banyak wisatawan lokal maupun mancanegara turut hadir untuk menyaksikan kemegahan ritual ini. Atmosfer kedamaian dan kebersamaan menjadi daya tarik tersendiri, di mana orang dari berbagai agama dan latar belakang dapat berkumpul dalam suasana toleransi dan saling menghormati.
Selain itu, festival ini juga menampilkan berbagai kegiatan budaya, seperti tari-tarian tradisional, musik gamelan, pameran kerajinan, serta bazar kuliner khas Jawa Tengah. Semua kegiatan tersebut menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai spiritual Waisak.
4. Makna Filosofis dan Pesan Moral
Perayaan Waisak di Borobudur bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga pengingat bagi manusia untuk hidup dengan welas asih, kedamaian, dan kesederhanaan. Melalui meditasi dan doa, umat diajak untuk merenungkan makna kehidupan, membuang kebencian, serta memperkuat rasa empati terhadap sesama.
Festival ini juga menjadi simbol kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Pemerintah, masyarakat lokal, dan umat Buddha bekerja sama menjaga ketertiban dan kelancaran acara, menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk menciptakan kedamaian.
Kesimpulan:
Festival Waisak di Borobudur adalah perpaduan sempurna antara spiritualitas, kebudayaan, dan nilai kemanusiaan. Keindahan prosesi, kilauan ribuan lampion di langit malam, serta semangat toleransi yang terpancar dari setiap peserta menjadikan perayaan ini lebih dari sekadar upacara keagamaan ia adalah perwujudan dari pesan universal: kedamaian bagi semua makhluk hidup. Dengan keunikan dan makna mendalamnya, Festival Waisak di Borobudur tidak hanya menjadi kebanggaan umat Buddha, tetapi juga warisan budaya Indonesia yang menginspirasi dunia akan indahnya hidup dalam harmoni.