Di banyak daerah di Indonesia, khususnya di pedesaan, terdapat sebuah tradisi yang dikenal sebagai rewangan atau rewang sebuah bentuk gotong‑royong yang dilakukan masyarakat untuk membantu tetangga atau saudara ketika mengadakan acara besar seperti pernikahan, khitanan, atau kenduri adat. Tradisi ini bukan sekadar pekerjaan bersama, melainkan mencerminkan nilai kebersamaan, solidaritas, dan identitas sosial yang kuat dalam komunitas.
Apa itu Rewangan?
Dalam konteks sosial budaya Indonesia, rewangan merujuk pada kegiatan masyarakat yang secara sukarela membantu pelaksanaan acara hajatan atau adat di lingkungan mereka. Pada acara itu, banyak tugas yang perlu dilakukan: memasak, menyiapkan konsumsi, menata tempat, mencuci piring, hingga menerima tamu. Masyarakat yang dilibatkan disebut “perewang” (orang yang melakukan rewang). Studi menunjukkan bahwa tradisi ini merupakan bentuk perilaku prososial: membantu tanpa imbalan langsung, mendorong interaksi sosial dan kebersamaan.
Sejarah dan Makna Sosial
Rewangan tumbuh subur di lingkungan desa‑desa di Pulau Jawa dan berbagai daerah lain di Indonesia. Dalam sebuah penelitian di Desa Hargomulyo, Kabupaten Gunungkidul, tradisi rewangan dijelaskan sebagai “ruang sosiokultural” yang terbentuk dari praktik sosial berulang dalam acara hajatan dan menjadi bagian penting dari struktur sosial lokal.
Nilai‑nilai sosial yang terkandung dalam rewangan antara lain:
- Gotong‑royong dan saling tolong: Sebagai ungkapan bantuan bersama, memperkuat solidaritas antarwarga.
- Jaringan sosial dan timbal balik: Orang yang membantu dalam hajatan terkadang memperoleh “ketumpangan” atau manfaat sosial di kemudian hari, ketika giliran mereka mengadakan acara.
- Identitas komunitas dan budaya lokal: Rewangan menjadi pembentuk identitas bersama dan peneguh nilai‑kekerabatan dalam masyarakat.
Praktik Rewangan dalam Kehidupan Nyata:
Contoh pelaksanaan rewangan bisa dilihat melalui tahapan persiapan hajatan: tuan rumah atau panitia acara biasanya mulai mengontak tetangga atau kerabat yang akan ikut membantu. Tugas diberikan: kaum ibu mungkin bertugas memasak atau membuat kue, sementara kaum bapak menyiapkan peralatan, kursi, tenda, dan logistik acara.
Selama dua hari atau lebih, para perewang bekerja bersama di dapur besar, menata konsumsi, hingga menjaga kelancaran acara. Bagi banyak masyarakat, kegiatan ini juga menjadi momen berkumpul, bercengkrama, dan memperkuat hubungan sosial yang mungkin jarang terjadi dalam keseharian.
Tantangan di Era Modern:
Meski begitu, tradisi rewangan menghadapi tantangan seiring perubahan zaman. Beberapa faktor pengubah antara lain: kehadiran jasa katering, perubahan gaya hidup urban, hingga generasi muda yang kurang tertarik pada pekerjaan fisik tradisional. Hal ini menyebabkan pengurangan partisipasi dan perubahan makna dari tradisi.
Peregangan budaya ini dapat mengurangi intensitas interaksi sosial dan melemahkan nilai gotong‑royong yang selama ini melekat dalam pola hidup komunitas desa.
Pentingnya Melestarikan Rewangan:
Melestarikan tradisi rewangan berarti menjaga nilai‑nilai sosial yang sangat penting: kebersamaan, saling membantu, dan rasa memiliki komunitas. Dalam konteks pembangunan sosial, tradisi ini merupakan modal sosial yang sangat kuat untuk membangun masyarakat yang inklusif dan saling peduli.
Penutup:
Rewangan bukan sekadar aktivitas membantu dalam hajatan ia adalah cerminan dari jalinan sosial yang mempersatukan masyarakat. Di tengah pesatnya perubahan kultur dan urbanisasi, tradisi ini tetap relevan sebagai tonggak kebersamaan dan modal sosial yang esensial. Dengan menjaga dan menyesuaikan rewangan sesuai zaman misalnya dengan inklusif terhadap generasi muda ataupun mengadaptasi metode modern kita tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat fondasi sosial yang memungkinkan masyarakat hidup saling mendukung dan harmonis.